Menenun Ketawadhuan di Ujung Waktu: Jejak Pengabdian K.H. Ahmad Sobari Batukali
Dipublikasikan pada 8 Agustus 2026
Senja di Mushola Al-Amin, Desa Batukali, senantiasa menyimpan kerinduan pada sebuah suara yang meneduhkan. Di sanalah, pada masa lalu, setiap usai maghrib di malam Rabu, lembaran kitab Durratun Nasihin dibuka, mendaras untaian nasihat yang mengalir dari lisan seorang kiai yang bersahaja. Beliau adalah K.H. Ahmad Sobari, sosok pengayom yang keluasannya tak sekadar terukur dari dalamnya ilmu agama, namun juga dari laku ketawadhuan yang mendarah daging sejak masa remajanya.
Musafir Ilmu dan Suluk "Wong Ndalem"
Lahir pada tahun 1952 dengan nama asli Sobari - sementara nama "Ahmad" baru disematkan usai beliau menunaikan ibadah Haji - masa mudanya dihabiskan murni untuk tirakat di jalan ilmu. Tak tanggung-tanggung, alih-alih lekas pulang untuk mencari eksistensi, beliau memilih menghabiskan waktu hingga usia 30 tahun untuk berkelana mematangkan diri dari satu pesantren ke pesantren lain.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ketersambungan sanad adalah ruh dari ilmu itu sendiri. Jejak rihlah ilmiah beliau terekam paling kuat di dua pesantren besar yaitu Pesantren Giri Kusumo (Demak) dan sebuah pesantren di Parakan. Di pesantren, beliau tidak hanya mengaji kitab, melainkan mendalami ilmu Tarekat dan melakukan laku batin tertinggi bagi seorang santri yaitu menjadi khaddam atau wong ndalem.
Di Giri Kusumo, beliau mengabdi dengan ikhlas untuk mengurus keperluan ndalem serta mengasuh Gus Munif (putra pengasuh Giri Kusumo). Laku ketawadhuan ini terus berlanjut saat beliau berpindah ke Parakan. Menjadi wong ndalem bukanlah tentang status pelayan, melainkan sebuah laku batin (suluk) untuk melebur keangkuhan ego demi merengkuh barokah sang guru.
Dari kerasnya tempaan masa nyantri itulah lahir sebuah wasiat tegas yang kerap beliau sampaikan kepada murid-muridnya: "Selama kamu masih belajar, jangan sampai menikah dulu atau membangun hubungan dengan wanita. Fokuslah, sebab nanti akan repot di tengah jalan."
Lentera Madrasah dan Moderasi Dakwah
Setelah usianya menginjak kepala tiga, Kiai Sobari akhirnya pulang ke kampung halamannya di Desa Batukali. Kehadirannya perlahan menjadi oase bagi masyarakat. Kapasitas keilmuannya membuat K.H. Abdul Hadi - sang muwakif sekaligus pendiri Madrasah Diniyah Miftahul Ulum - mempercayakan tampuk kepemimpinan madrasah tersebut kepada Kiai Sobari, dengan didampingi oleh K.H. Nur Syahid (tokoh yang kini dituakan di Batukali).
Di sela-sela kesibukan memimpin madrasah, Kiai Sobari tak gengsi untuk turun tangan langsung mengajarkan ilmu alat (Nahwu dan Shorof) untuk santri kelas 6, membekali generasi muda dengan kunci pembuka turats (kitab kuning).
Kiprahnya tak terhenti di ruang kelas madrasah. Beliau adalah roda penggerak Jam'iyyah Nahdlatul Ulama di desanya. Jejak organisasinya terbentang dari kepengurusan GP Ansor hingga jajaran Syuriyah/Tanfidziyah. Uniknya, masa bakti beliau di Ansor harus purna bertepatan dengan momen memanasnya dinamika politik antara PKB dan PPP kala itu - sebuah saksi bisu bahwa beliau hidup melintasi berbagai pergolakan zaman.
Dalam berdakwah, Kiai Sobari dikenal dengan gayanya yang sangat moderat, luwes, dan tidak kaku, sehingga masyarakat dari berbagai kalangan merasa diayomi. Selain Durratun Nasihin, beliau juga aktif merawat tradisi Jamaah Nariyah dan kumpulan Manaqib.
Saudagar yang Menjaga Akar Sejarah
Di luar rutinitas keagamaannya, keseharian Kiai Sobari diisi dengan berdagang. Namun, ada satu sisi unik yang melengkapi kebesaran sosoknya. Beliau adalah seorang pencinta sejarah yang amat kritis, khususnya mengenai sejarah lokal Desa Batukali.
Saat melihat ada literatur atau tutur sejarah desa yang simpang siur - seperti klaim bahwa cikal bakal desa berasal dari pendatang wilayah selatan, padahal secara faktual sudah ada lima petinggi desa sebelumnya - beliau senantiasa tergerak untuk meluruskannya secara objektif. Kiai Sobari tak ingin akar sejarah desanya tercerabut atau diklaim keliru oleh zaman. Baginya, merawat sejarah adalah bagian dari menghargai leluhur dan menjaga identitas generasi mendatang.
Warisan Sanad yang Terus Menyala
Pada tahun 2016, Kiai Sobari kapundut (wafat), meninggalkan duka mendalam bagi warga Batukali. Jasad beliau disemayamkan di makam desa sebelah timur. Meski raga sang Kiai telah membumi, sanad perjuangannya terus mengalir deras.
Beliau meninggalkan empat orang putra-putri yang kini meneruskan tongkat estafet perjuangannya di dunia pendidikan. Salah satu putranya (putra kedua) bahkan mewarisi keteguhan sang ayah dalam mencari ilmu, dengan nyantri di bawah asuhan Mbah Maimoen Zubair (Sarang, Rembang) sebelum akhirnya menamatkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Sementara itu, di tengah masyarakat Batukali, Jamaah Nariyah Al-Istiqomah yang beliau inisiasi masih terus bergaung setiap dua minggu sekali (malam Sabtu), bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya. Di bawah kesaksian murid-murid setianya seperti Pak Sanusi, Pak Abdul Halim, dan Bapak Nur Subkan, alunan shalawat Nariyah dan lantunan kitab di Mushola Al-Amin menjadi bukti tak terbantahkan; bahwa cahaya keteladanan K.H. Ahmad Sobari tak pernah benar-benar padam dari bumi Batukali.